Pura Kesuma Dewi

  • 03 April 2018
Pura Kesuma Dewi

Pura Kesuma Dewi [disebut juga Pura Sumadewi atau Pura Mas Medewi] terletak di Banjar Tegal, Desa Bebalang, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Awal mula keberadaan Pura Kesuma Dewi adalah Pathirtan Pangsut, yang mengalirkan air suci Kesuma Dewi yang sangat sakral dan metaksu. Pangsut sendiri berarti di ujung jalan yang mentok atau buntu. Sebagaimana yang kita lihat bahwa bahkan sampai jaman sekarang inipun Pura Kesuma Dewi tetap berlokasi di ujung jalan yang mentok atau buntu.


Mengenai sejarah keberadaan Pathirtan Pangsut ini termuat di dalam prasasti kuno yang dikeluarkan Raja Jayapangus [bertahta pada tahun 1178 s/d 1181 Masehi] yang membahas tentang keberadaan Pathirtan Pangsut di wilayah Tegal Alang-alang di selatan Kota Bangli, yang sekarang menjadi Banjar Tegal. Prasasti ini sampai sekarang masih tersimpan di Pura Kehen. Ini berarti sejarah keberadaan Pathirtan Pangsut dan air suci Kesuma Dewi sudah ada sejak sebelum abad ke-11 M.

Hanya ini sekelumit sejarah yang diketahui, bahwa Pathirtan Pangsut dan air suci Kesuma Dewi sudah ada pada abad ke-11 M. Sedangkan awal mula sejarah dibangunnya parahyangan ini pada jaman yang jauh lebih tua tidak diketahui.


Sedangkan tahap perluasan dari Pura Kesuma Dewi termuat di dalam lontar Siddhimantra Tattwa, yaitu lontar yang memuat kisah sejarah tentang Danghyang Siddhimantra [seorang mahasiddha Shiwa-Buddha terkenal dari jaman kuno] berikut kisah sejarah mengenai keturunan beliau.


Diceritakan bahwa Danghyang Siddhimantra memiliki seorang putra bernama Danghyang Manik Angkeran. Kemudian dari Danghyang Manik Angkeran garis keturunan ini terus berlanjut dari generasi ke generasi.


Sampai pada keturunan beliau yang bernama I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi  yang menjadi Anglurah Gelgel dan memiliki puri di Desa Tambahan. Beliau memiliki empat anak dan salah satunya adalah anak perempuan bernama I Gusti Ayu Jembung. Anaknya ini dipertemukan [dijodohkan] dan dinikahkan melalui upacara pawiwahan dengan I Gusti Ngurah Arsa Guwi.

Setelah beberapa waktu dari upacara pawiwahan ini mendadak datang seorang utusan bernama Ida Pedanda Sakti Gde Mawang yang dikirim oleh Ratu [penguasa] Taman Bali yang bernama I Dewa Taman Bali.

I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi bersikap sangat hati-hati dengan datangnya utusan ini, mengingat penguasa Taman Bali sudah memberontak melepaskan diri dari Kerajaan Bali yang berpusat di Gelgel. Memanfaatkan keadaan pusat pemerintahan Kerajaan Bali di Gelgel yang sudah hampir runtuh, serta sudah kehilangan kekuatan dan kekuasaannya.

I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi kemudian keluar dari puri-nya untuk bertemu dengan sang utusan. Ketika sampai diluar puri dilihatnya Ida Pedanda Sakti Gde Mawang sedang menunjukkan kesiddhian-nya dengan memegang tetaken yang diatasnya berkobar nyala api sebesar kepalan tangan bertingkat 1 [satu]. Melihat pameran kesiddhian ini I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi tetap menyambut sebagaimana mestinya dan menghaturkan ucapan selamat datang. Sebagai keturunan langsung dari Danghyang Siddhimantra beliau juga tentunya memiliki kesiddhian yang tidak sembarangan. Beliau kemudian menghunus keris pusaka pajenengan beliau yang bernama Ki Baan Kawu-Kawu dan langsung mengeluarkan api sebesar kepalan tangan bertingkat 21 [dua puluh satu].

Seketika itu juga Ida Pedanda Sakti Gde Mawang merasa kesaktiannya kalah dari I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi. Beliau lalu mengajak I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi untuk duduk berdialog. Disampaikanlah maksud tujuan kedatangannya sebagai utusan dari I Dewa Taman Bali [penguasa Taman Bali] untuk melamar I Gusti Ayu Jembung, yang hendak diperistri oleh I Dewa Taman Bali.

Sadarlah I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi bahwa tujuan sebenarnya dari pengiriman utusan ini adalah untuk memancing peperangan. Sudah tentu I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi tidak dapat memenuhi permintaan penguasa Taman Bali tersebut, sebab I Gusti Ayu Jembung sudah dinikahkan dengan I Gusti Ngurah Arsa Guwi.


Peminangan ini hanyalah taktik dari I Dewa Taman Bali untuk melemahkan setiap kekuatan yang dirasanya menjadi saingan bagi kekuasaannya. Karena peminangan ini ditolak, maka penguasa Taman Bali memiliki alasan untuk melakukan penyerangan dengan alasan merasa terhina dengan penolakan tersebut.

Pada saat itu pasukan Taman Bali sedang berada pada puncak kekuatannya. I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi sadar akan diserang pasukan yang kuat dan jumlahnya lebih besar dari pasukannya sendiri. Beliau memutuskan untuk menghindari pecahnya peperangan dengan cara menyingkir dan bersembunyi. Beliau membawa seluruh harta dan benda pusaka penting miliknya dan mengajak seluruh keluarganya melakukan perjalanan menuju utara.
Di wilayah Tegal Desa Bebalang mereka disambut oleh I Pasek Dawan Tegal. Situasi saat itu sangat genting karena pasukan Taman Bali sudah mengetahui pelarian ini dan berupaya melakukan pengejaran. I Pasek Dawan Tegal membantu I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi beserta keluarganya untuk bersembunyi di Pathirtan Pangsut di tepi sungai kecil yang bernama Sungai Geroh-geroh.

Saat itu I Gusti Ayu Jembung sudah dalam keadaan hamil. Disertai oleh  I Pasek Dawan Tegal, I Gusti Ayu Jembung beserta suami dan keluarganya, menyampaikan sebuah permohonan dan janji kepada para Ista Dewata mahasuci yang malinggih di Pathirtan Pangsut. Mohon agar dilindungi dari kejaran pasukan Taman Bali, mohon keselamatan agar tetap bisa hidup dan memperoleh keturunan [yang sedang dikandungnya]. Kalau permohonan ini terkabul berjanji akan membangun sebuah parahyangan suci kahyangan jagat di Pathirtan Pangsut yang akan dinamai Pura Kesuma Dewi.

Berkat perlindungan niskala dari para Ista Dewata alam-alam suci mereka semua selamat dari pengejaran dan pencarian pasukan Taman Bali. Ketika keadaan dirasa sudah agak aman kemudian I Gusti Anglurah Tambaan Kancing Masuwi beserta keluarganya, termasuk I Gusti Ayu Jembung yang sedang hamil, melanjutkan perjalanan menuju Den Bukit [sekarang disebut Buleleng] dan sampai di Bukit Tajun. Dari Bukit Tajun mereka melanjutkan perjalanan menuju utara dan menetap disana. Tempat ini kemudian diberi nama Desa Kubu Tambahan. Karena mereka berasal dari Desa Tambahan dan kemudian membuat kubu [pondok atau rumah tempat tinggal].

Untuk memenuhi janji karena sudah mendapat perlindungan niskala, kemudian dibangunlah parahyangan suci Pura Kesuma Dewi di Pathirtan Pangsut.Ini berarti perluasan Pura Kesuma Dewi ini terjadi pada sekitar abad ke-17 M.

Dari beberapa naskah klasik ini bisa diambil sebuah kesimpulan bahwa Pura Kesuma Dewi dibangun dalam 2 [dua] tahap pembangunan. Pura Kesuma Dewi sudahada sejak sebelum abad ke-11 Mdan mengalami perluasan pada sekitar abad ke-17 M.

  • 03 April 2018

Artikel Lainnya

Cari Artikel